Lynx dan Leena memutuskan untuk segera berangkat. Setiap detik terasa berharga jika mereka ingin menyelamatkan Lala. Namun, ada alasan lain yang disimpan Lynx dalam diam—sebuah harapan samar yang belum sempat ia ungkapkan.

Sebelumnya, Jelita mengatakan bahwa Kael tertembak senjata laser di dada. Namun setelah itu, Jelita tak melihat sendiri apa yang benar-benar terjadi karena di bius Kanaya.

Saat memeriksa lokasi ledakan, Lynx telah memeriksa secara mendalam karena khawatir terhadap Kael dan Jelita terkena ledakan karena aura mereka tidak di temukan dimanapun. Dan dia tak menemukan bekas tubuh atau jejak pakaian mereka sedikit pun.

Meskipun terkena ledakan besar, seharusnya masih ada sedikit jejak yang bisa di temukan, tetapi dia sudah memeriksanya dengan seksama dan tidak menemukan petunjuk apapun. Dan saat memeriksa itulah, dia kehilangan Lala. Serta akhirnya mereka menemukan Jelita di sekap, tidak terkena ledakan.

Dalam hatinya, ia berharap... mungkin Kael juga dibawa oleh Kanaya.

Sebagai tindakan berjaga-jaga, Lynx menyerahkan empat lembar kertas formasi kepada Narendra. “Bawalah ini. Kamu bisa membagikannya. Jika sesuatu terjadi, aku bisa segera muncul.”

Narendra yang sudah mengetahui cara kerja kertas formasi tersebut segera menerima dengan ekspresi gembira. Dengan ini, dia bisa menghubungi Lynx kapanpun diperlukan, serta dengan kertas ini, mereka akan tahu jika Lynx baik-baik saja.

Saat mereka bersiap, Leena memperhatikan Lynx yang tampak termenung. “Lynx, apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya pelan.

Lynx mengangkat wajahnya, pandangannya kosong sejenak sebelum berubah lembut saat menatap Leena. “Hanya teringat sesuatu...”

Ia lalu memalingkan wajah ke arah Leena. “Kita tak tahu berapa lama perjalanan ini akan berlangsung. Apa kau sudah menyiapkan segalanya?”

Leena tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin penyimpanan di jari manisnya. “Barang-barangku selalu kubawa. Jadi kita bisa berangkat kapan saja.”

Namun tatapan matanya meredup seiring kata-katanya berikutnya. “Aku hanya sedih... tidak bisa berpamitan pada Karim. Dia pasti sangat terpukul mendengar semua ini.”

Lynx mengusap lembut rambut Leena, lalu berpaling pada Jelita yang berdiri dalam diam. “Jelita, aku menitipkan mereka padamu. Jaga kondisi tubuh dan pikiran semua orang. Aku percaya padamu.”

Jelita menggigit bibirnya, hatinya terasa sesak. Ia tahu risiko perjalanan Lynx, dan rasa takut menguasainya. Ia melangkah maju dan memeluk Lynx erat-erat, seolah tak rela melepasnya. “Hati-hati, Kepala Suku… kami akan menunggumu.”

Lynx membalas pelukan itu dengan tenang, sebelum akhirnya mulai membentuk sebuah formasi.

Namun portal itu terlihat berbeda dengan portal saat mereka melewati dimensi ini dari planet Surya, lebih mirip portal teleportasi yang biasa Lynx buat.

Arkha, Narendra, dan Jelita saling berpandangan. “Portal ini... ” gumam Arkha, kerutan muncul di keningnya.

“Aku ingin menemui Karim terlebih dahulu,” ucap Lynx tanpa menoleh. “Dia keluargaku. Aku tak bisa pergi tanpa berpamitan.”

Lynx lalu menggenggam tangan Leena, menatap semua rekan yang ia tinggalkan. Tatapannya tegas namun menyiratkan kepedihan.

“Aku tak akan mengajak kalian menemuinya. Dari sana… aku akan langsung pergi.”

Mereka semua terdiam. Hati mereka berat, tapi tak seorang pun menentang.

“Semuanya… jaga diri,” kata Lynx dan Leena bersamaan.

Dengan langkah mantap, mereka melangkah masuk ke dalam pusaran cahaya, meninggalkan Narendra dan yang lainnya di kota Zhurong.

***

Setibanya di hutan dekat gerbang Kota Huoling, Leena menghentikan langkahnya. Ia memandang kota itu dari kejauhan, membiarkan angin membawa aroma pepohonan memasuki paru-parunya. Di balik cakrawala, matahari menyentuh atap-atap bangunan dengan sinar keemasan. Dalam keheningan itu, kenangan bersama Lynx di kota Huoling perlahan bermunculan di benaknya. Saat itu dia kehilangan ingatannya dan hidup sebagai Ling Mei.

Ia bersyukur... bahwa dirinya dan Ling Mei adalah satu. Jika tidak, ia tak tahu bagaimana menghadapi kenyataan bahwa Lynx pernah berhubungan intim dengan sosok wanita yang begitu menyerupainya.

Ingin rasanya membicarakan kenangan itu, tapi melihat wajah Lynx yang fokus, langkahnya cepat dan sorot matanya tajam, jelas ia tengah terburu untuk menemukan Karim. Leena memilih diam, mengikuti dari belakang tanpa suara.

Namun hatinya tak mampu lagi menahan satu pertanyaan yang telah lama mengganggu pikirannya.

"Lynx," ucapnya pelan, namun terdengar jelas di tengah desir angin. "Aku ingin tahu... Dulu, kau menyegel kekuatan dan ingatanmu demi melewati portal dimensi di Planet Surya. Kau juga bilang dunia ini takkan sanggup menanggung kekuatanmu. Tapi sekarang... kau bisa menggunakannya di sini. Bagaimana bisa?"

Lynx melirik sekilas, lalu tersenyum tenang. "Energi sakti yang kudapat di sana masih tersegel. Yang kau lihat selama ini... hanya kurang dari satu persen yang kubuka. Cukup untuk berjaga-jaga."

Leena tertegun, langkahnya terhenti. "Kau bercanda, bukan? Kau menghadapi leluhur Sekte Api Langit... yang berada di tingkat Immortal! Mana mungkin kau melawan dia hanya dengan kekuatan yang nyaris tidak kau gunakan?"

Lynx tertawa pelan, nada suaranya ringan. "Aku tidak menggunakan energi itu. Hanya kekuatan fisikku."

Leena menatapnya lekat-lekat, seperti mencoba membaca kebenaran dari matanya. "Kekuatan fisik...? Itu tidak masuk akal..."

"Kau masih ingat batu meteor yang digunakan suku Monrest di Planet Surya?" tanya Lynx. Ia menatap ke depan, seolah memandangi kembali peristiwa itu. "Saat kita di tangkap mereka, aku tidak tahu, entah bagaimana aku merasakan tubuhku seperti dihancurkan... lalu dibentuk ulang. Batu meteor itu kurasa menyatu denganku. Setelahnya, tubuh ini berubah... menjadi sesuatu yang terus-menerus menyerap berbagai macam energi. Jika tidak disegel, aku akan menyerap kekuatan dari seluruh dimensi."

Nada suaranya kini serius, membawa keheningan yang menekan di antara mereka. Lynx masih bisa merasakan rasa sakit yang harus dilewatinya saat itu.

Di depan Leena, Lynx tidak ingin berbohong."Awalnya aku menyisakan satu persen kekuatan itu untuk berjaga-jaga, namun sejak energi iblis menyatu dengan tubuhku, aku menyegel lagi kekuatan itu karena masih terlalu besar."

Leena menggigit bibirnya pelan. Ia tak bisa menyangkal kebenaran itu. Ia sendiri menyaksikan bagaimana Lynx menumbangkan naga raksasa hanya dengan satu serangan, menciptakan banyak portal teleportasi untuk menyelamatkan penduduk... semua itu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehabisan tenaga. Begitu juga saat di dunia kecil, ratusan binatang iblis dengan mudah dikalahkannya. Bahkan dengan santainya, dia mengalahkan leluhur Sekte Api Langit yang berada di ranah Immortal pertengahan.

"Kalau begitu..." ucap Leena, ragu sejenak. "Kenapa dulu kau tak menyegel dirimu seperti sekarang? Agar ingatanmu tidak perlu hilang?"

Lynx menghela napas pendek, lalu tersenyum. "Kau lupa? Saat itu aku bahkan belum tahu bagaimana mengendalikannya. Tubuhku belum stabil... dan energi dari seluruh penjuru terasa mengalir liar masuk ke tubuhku. Jika aku tak menyegel ingatan dan inti jiwaku... portal itu akan hancur saat ku lewati, dan dunia ini ikut binasa."

Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan tenang. "Tapi ketika darahku mengenai cincin warisan... ingatanku perlahan kembali. Dan bersamaan dengan itu, aku teringat cara lain untuk menyegel kekuatanku. Cara yang lebih halus, lebih seimbang. Dan tubuhku... sudah mulai beradaptasi."

Leena mengangguk perlahan. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya masih berputar.

"Dan selama tiga tahun itu... kau tidak melupakan apa pun?" tanyanya lembut, menoleh menatap wajah Lynx.

Lynx menatapnya, senyumnya tipis, suaranya rendah nyaris berbisik. "Tentu... aku mengingat semuanya..."

Ia terdiam sejenak, tidak melanjutkan perkataannya. Lynx menatap Leena dengan sedikit cemas. Tapi Leena tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan melangkah lebih ringan.

"Terima kasih, Lynx."

Lynx mengernyit, heran dengan ucapan tiba-tiba itu.

Leena berhenti, lalu menoleh. Tatapannya lembut, namun tegas. "Aku sudah tahu semuanya. Jelita memberitahuku... bahwa selama tiga tahun kalian bersama, kau tidak pernah melupakan aku, dan selalu menjaga jarak saat bersamanya."

Ia tersenyum, wajahnya memancarkan pengertian. "Kau tidak ingin menyakiti perasaannya, bukan? Karena itu kau memilih untuk mengatakan bahwa kau tidak mengingat apa-apa. Aku tahu... sejak di Planet Surya, Jelita menyukaimu."

Lynx tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dalam diam.

Tapi bagi Leena, itu sudah cukup.

Ia melangkah mendekat, mengecup pipi Lynx dengan lembut, lalu menggenggam tangannya.

"Ayo. Kita harus segera masuk ke kota, menemui Karim dan pergi menyelamatkan Lala."

Mereka melangkah berdampingan menuju gerbang Huoling. Langkah mereka mantap, seolah masa lalu tak lagi menjadi beban.

